BONDOWOSO – IndonesiaPos
Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Bondowoso menangani tiga kejadian bencana yang terjadi pada Selasa (2/12/2025).
Rentetan kejadian tersebut meliputi dua tanah longsor serta satu insiden pohon tumbang akibat angin kencang. Seluruh kejadian dipastikan tidak menimbulkan korban jiwa.
Kepala Sekolah SD Negeri Selolembu, Catur Mega Sofianto mengatakan bahwa hujan deras memicu tanah longsor di halaman belakang sekolah.
“Iya, sebelumnya memang hujan deras,” terangnya.
Plt Kalaksa BPBD Bondowoso, Kristianto mengatakan, material tanah tergerus dengan ukuran panjang sekitar 10 meter, tinggi 3,5 meter, dan lebar 2 meter. Selain itu, longsor berdampak pada irigasi saluran air milik UPTD SDA Kabupaten Bondowoso di saluran Krasak.
“Petugas bersama pihak sekolah berada di lokasi untuk melakukan asesmen dan memasang safety line demi mencegah risiko lanjutan, ” ungkapnya.
Sebelumnya, pukul 13.47 WIB, BPBD menerima laporan adanya angin kencang yang menyebabkan sebuah pohon tumbang di Jl. Letnan Rantam, Poncogati, Kecamatan Curahdami.
“Pohon roboh sempat menutup arus lalu lintas, ” katanya.
Tim Reaksi Cepat (TRC) BPBD bersama warga kemudian melakukan pemotongan batang pohon menggunakan “Chainsaw” sehingga jalur kembali dapat dilalui.
Hingga laporan dikirimkan, situasi telah normal dan arus lalu lintas kembali lancar, sementara cuaca di lokasi terpantau hujan intensitas rendah.
Pada waktu yang hampir bersamaan, sekitar pukul 13.47 WIB, tanah longsor juga terjadi di Desa Sumber Tengah, Kecamatan Binakal.
Material longsor menutup saluran air sepanjang 4 meter dengan ketinggian 6 meter dan lebar 3 meter.
BPBD langsung melakukan asesmen lapangan dan menyampaikan laporan perkembangan kepada pimpinan.
“Cuaca di wilayah tersebut juga dilaporkan hujan intensitas rendah,” ucap pria yang akrab disapa Kris tersebut.
BPBD memastikan bahwa hingga laporan terakhir dikirim, situasi di Bondowoso dalam kondisi aman dan terkendali. BPBD mengimbau masyarakat tetap waspada terhadap cuaca ekstrem yang berpotensi memicu bencana hidrometeorologi, terutama saat memasuki puncak musim hujan.
