<

Sambut Bulan Bung Karno 2026  PDIP Gelar Pameran Foto

Megawati Sukarnoputri

 

JAKARTA — IndonesiaPos

PDI Perjuangan (PDIP) menggelar pameran foto, surat, dan komik Bung Karno di halaman Patung Multatuli, Saidjah, dan Adinda, Rangkasbitung, Kabupaten Lebak, Banten, Selasa untuk memperingati Hari Lahir Pancasila sekaligus menandai pembukaan Bulan Bung Karno 2026.

Pembukaan pameran yang mengusung tema “Bung Karno Milik Kita Semua!” tersebut dihadiri oleh Sekretaris Jenderal PDIP Hasto Kristiyanto, didampingi oleh Ketua DPP PDIP Ribka Tjiptaning dan Kepala Badan Sejarah PDIP Bonnie Triyana.

Hasto dalam keterangan diterima di Jakarta memberi semangat pada seluruh peserta yang duduk di bawah teriknya matahari. Sebagian besar pengunjung pameran foto tersebut berasal dari kalangan mahasiswa.

“Jangan takut dengan panasnya sinar matahari. Ketika saya di penjara karena memperjuangkan kebenaran dan cita-cita, sinar matahari menjadi langka. Bersyukurlah kita bisa mendapat sinar Sang Surya yang telah memberi energi kehidupan,” kata Hasto.

Energi matahari itu, kata Hasto, yang ikut menggerakkan peringatan Bulan Bung Karno ini yang diawali dengan peringatan Hari Lahir Pancasila pada 1 Juni.

“Pancasila bukan hanya ideologi bangsa, tetapi Pancasila juga harus membangun suatu tata dunia baru,” ucapnya.

Ia menjelaskan pidato Bung Karno pada 1 Juni 1945 adalah “gugatan terhadap imperialisme dan kolonialisme yang bekerja ratusan tahun di Indonesia”.

Hasto juga menyoroti warisan Multatuli yang melalui tulisan Max Havelaar (1860) mampu mengguncangkan Belanda hingga melahirkan politik etis.

Prosesi pembukaan acara dilanjutkan menggunakan kesenian Angklung Buhun dari Sanggar Lebak Membara. Setelah itu, upacara pembukaan dilakukan dengan menyanyikan lagu Indonesia Raya dan penampilan Celempung dari Kanekes.

Sementara, Ketua Panitia yang juga anggota Komisi X DPR RI Fraksi PDI Perjuangan Bonnie Triyana melaporkan pameran itu akan berlangsung dari 1 hingga 30 Juni 2026.

Sedangkan Wakil Bupati Lebak Amir Hamzah menyampaikan sambutan yang sarat dengan pantun dan pesan moral. Ia memulai dengan berpantun:

“Kerangkeng itu beli gula aren, Manisnya asli bagaikan madu. Mari kita buktikan di tempat yang keren:

Pancasila, Indonesia maju!”katanya.

Amir menyatakan bahwa dia berdiri di tempat yang bersejarah, di gedung di mana Multatuli menorehkan pena untuk melawan penindasan terhadap rakyat Lebak. Ia mengaitkan Multatuli, Bung Karno, dan Baduy sebagai tiga warisan Lebak.

“Multatuli melalui pena, Bung Karno melalui pidato, tujuannya sama: menegakkan keadilan. Saya jawab tegas: keduanya pembela yang lemah,” ujar Amir.

Ia kemudian menambahkan warisan ketiga, yaitu Baduy dengan kejujurannya. Menurutnya, di hati masyarakat Baduy, Pancasila adalah ajaran yang hidup.

“Tidak tertulis di kertas, tetapi dijalankan dalam laku setiap hari. Jujur pada alam, jujur pada janji, jujur pada sesama. Itulah hakikat kejujuran. Baduy adalah Pancasila yang hidup,” katanya.

Ia juga menyerukan gotong royong untuk membangun jalan ke Baduy, menjadikan museum sebagai “sumber api keberanian untuk berbicara kebenaran” serta melawan “mental tidak jujur, tidak adil, dan tidak gotong royong”.

“Jangan sekali-kali kita meninggalkan sejarah. Sebab Baduy tidak akan meninggalkan sejarahnya, begitu pula Multatuli tidak akan meninggalkan jejaknya. Karena dua nama itu membuat Pancasila punya wajah dan punya tangan untuk bekerja,” ujarnya.

 

 

Megawati Tekankan Pentingnya Soliditas Pada Ribuan Kader PDIP di Bali

BERITA TERKINI

IndonesiaPos