IndonesiaPos –
Saya melihat persoalan ISIS ini bukan hal yang baru, sebab beberapa tahun lalu saya pernah pernah mengatakan, masalah kombatan teroris ISIS yang pada waktu itu ISIS belum dikalahkan oleh Amerika.
Sekarang ini ada perkembangan baru wacana pemulangan WNI mantan ISIS yang menjadi perbincangan publik. Sebetulnya bukan menjadi inti pemulangan mereka ke Indonesia, seperti yang disampaikan Menko Polhukam Mahfud MD.
Persoalannya bagaimana komunikasi publik para pejabat kita ini yang telah menciptakan seolah-olah ada yang sangat serius sehingga ada wacana memulangkan mereka yang kemudian terjadi pro kontra tanpa dilihat sebetulnya masalah apa?
Seolah-olah mereka minta dipulangkan hanya karena sering melihat tampilan gambar perempuan dan anak-anak. Kita harus jujur juga, apa benar mereka minta dipulangkan ? apakah hanya perempuan dan anak yang minta dipulangkan?
Kalau kita melihat dari posisi kombatan, saya tidak yakin mereka itu minta pulang. Karena ketika terjadi rekrutmen para terroris ISIS mereka bukan tidak tahu, atau karena tertipu, atau iming-iming uang saja, tapi ada penekanan tentang ideologis.
Kalau berbicara anak-anak saya paham, otomatis anak-anak itu harus dilidungi, karena berbahaya sekali anak ini kalau kemudian menjadi semakin teradikalisasi ditempat mereka sekarang.
Kemudian perempuan ada yang berbeda, seperti ada perempuan yang terpaksa tetapi ada juga yang memang berniat untuk bergabung dengan ISIS. Seperti yang sering dilakukan, bagaimana para terroris kaum perempuan itu saat melakukan bom bunuh diri, bahkan sampai tega membawa anak-anaknya.
Oleh karena itu saya sangat yakin bahwa kepala BNPT, Menko Polhukam, dan pihak terkait akan membicarakan hal ini secara mendalam. Masalahanya saat ini sudah sudah di flow up yang solah-olah pemerintah merencanakan pemulangan WNI manta ISIS.
Nah saya sebagai pengamat politik bukan melihat dari satu sisi saja, saya menyimpulkan bahwa pada prinsipnya mereka harus di tolak. Tetapi kalau pemerintah bisa menjelaskan alasannya, mungkin nanti saya akan membuat suatu reaksi. (Prof.DR.AS Hikam)