BANYUWANGI – IndonesiaPos
Kalangan mahasiswa, juga para undangan dan khususnya wartawan di Banyuwangi mendapat bekal ilmu jurnalistik dari Dewan Pers, pada acara seminar Nasional yang diselenggarakan di Pendapa Sabha Swagata Blambangan Banyuwangi.
Dalam kesempatan ini, Ketua Persatuan wartawan Indonesia ( PWI ) kabupaten Banyuwangi, Saifuddin Mahcmud, menyampaikan, PWI di Banyuwangi yang beranggota sedikitnya 40 wartawan yang meliputi lintas media mulai dari media cetak, media elektronik dan media online, “Insyalaah semuanya anggota (PWI Banyuwangi,red) kami sudah 90% sudah terverifikasi”jelasnya.sabtu (29/02/2020).
Menurut Saifuddin, kedepan setiap media (perusahaan pers) harus terivifikasi oleh dewan pers mulai dari lolos administrasi dilanjutkan dengan verifikasi vaktual selain verivikasi administrasi meliputi mulai dari perusahaan pers mempunyai kantor, karyawan, penasehat umum, penanggungjawab dan taat kode etik. “Verifikasi itu penting, media yang tidak terverifikasi dengan sendirinya berarti wartawannya belum mempunyai standar kumpetensi”imbuhnya.
Ketua Komisi Hubungan Antar Lembaga dan Internasional, Agus Sudibyo,mengatakan, terkait kebebasan pers, dari data yang dihimpun dewan pers berbagai informasi yang beredar yang dalam tulisnya ada yang menimbulkan kerugian pihak lain.
Salah satu contoh gunung agung meletus bulan november 2017 lalu, berbagai media menggambarkan dramatis, sehingga dunia mengetahui apa yang terjadi (kejadian di Bali.red) pers Indonesia menyebarkan gambar dramatis seperti gunung mengeluarkan lava panas, gambar pengungsi sehingga kekacauan yang terjadi.
Sehingga negara lain mengeluarkan travel warning dan melarang warganya untuk ke Bali, awalnya turis ingin pergi ke Bali dengan melihat Bali seperti itu membuat turis ketakutan sehingga turis memilih wisata ke lain negara seperti ke Pattaya
“Apa yang kita sebarkan didunia Maya itu sifatnya tidak bisa terhapuskan lagi, walau status gunung agung sudah reda, namun turis tetap ketakutan ke bali karena gambarnya yang tersebar di internet menyeramkan,”tuturnya.
Kata dia, Ini salah satu problem dari kebebasan pers, media/wartawan boleh memberitakan sesuatu kejadian namun dari dampak pemberitaanya juga di pahami.
“Waktu itu dari kawan-kawan perhotelan dan pariwisata di Bali mengeluh, pasalnya media Indonesia memberitakan lebih menguntungkan Fattaya (tempat wisata di negara lain.red) dari pada di Bali karena semua memberitakan tidak memikirkan dampak-dampak yang lainya sehingga para turis memilih ke Fattaya,”jelasnya.
Agus, menambahkan, setiap profesi seperti dokter, pengacara pasti ada sertifikasi profesi baik di sertifikasi di wartawan agar semakin di akui semua pihak maka wartawan harus juga melakukan verifikasi untuk meningkatkan kepercayaan publik kepada wartawan dan meningkatkan profesionalisme kompotensi wartawan.
Acara ini di hadiri juga Bupati Banyuwangi, Kapolresta, Kalapas, HPMI, mahasiswa UNTAG 1945 Banyuwangi, berbagai media cetak, elektronik dan online di Banyuwangi (Ari bp)