PAMEKASAN – IndonesiaPos
Pemerintah daerah kabupaten Pamekasan melalui Dinas Kesehatan (Dinkes) sangat konsen terhadap penanggulangan Human Immunodeficiency Virus dan Acquired Immunodeficiency Syndrome atau HIV/AIDS, yang salah satunya mendukung langkah pemerintah pusat mewujudkan Three Zero HIV/AIDS pada 2030.
Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) dr. M Saifudin melalui Plt Kabid P2P Avira Sulistyowati, SKM, MM. menjelaskan, hari ini kebetulan hari Aids se-dunia dan di Pamekasan sendiri pasien yang dalam kondisi odhiv (orang dalam HIV).
Menurutnya, untuk mewujudkan hal itu, pihaknya senantiasa melakukan berbagai upaya bersama perangkat daerah dan lembaga kemasyarakatan yang konsen pada masalah HIV/AIDS.
“Di Kabupaten Pamekasan yang dalam pengobatan dan perawatan dari mulai tahun 2008 sampai tahun 2025 itu ada yang masih dalam perawatan dan pengobatan sebanyak 275 penderita,”kata Avira. saat dikonfirmasi lewat WhatsApp pada Senin 1 Desember 2025 sekitar pukul 14.35 WIB.
Avira menambahkan, bertepatan pada 1 Desember hari HIV/ AIDS se-dunia ini, maka harus mendukung program pemerintah Tree Zero.
“Kita berusaha tidak ada virus HIV,/AIDS dan yang kedua kita berusaha untuk men zero kan kematian akibat AIDS/HIV kemudian yang ke tiga kita berusaha agar tidak ada stigma diskriminasi terhadap penderita HIV/AIDS,”tegasnya.
“Sedangkan Tree Zero yang di minta oleh pemerintah pusat diantaranya adalah, kita berusaha tidak ada virus Aids HIV, dan kita berusaha untuk men zero kan kematian akibat Aids kemudian kita berusaha agar tidak ada stigma diskriminasi terhadap penderita Aids HIV dan untuk bersama sama mengakhiri Aids/HIV,”sebutnya
Lebih lanjut, PLT Kabid P2P Dinkes Pamekasan mengungkapkan, pihkanya selama ini telah mengadakan diskrining terhadap calon pengantin baru, kepada ibu hamil untuk mendeteksi secara langsung, kemudian setelah menemukan masyarakat waktu tes didapatkan positif HIV maka mereka akan melakukan pengobatan, jadi tidak ada rehab terhadap pasien penderita Aids HIV dan mereka itu harus melakukan pengobatan secara teratur.
“Upaya yang telah kami lakukan selama ini adalah mengadakan diskrining terhadap calon pengantin baru, terhadap ibu hamil untuk mendeteksi secara langsung jika dalam deteksi itu didapatkan positif HIV maka akan dilakukan pengobatan jadi tidak ada rehab bagi pasien penderita HIV/AIDS dan untuk kesembuhan nya hari melakukan pengobatan secara teratur,” ungkapnya.
Dijelaskan, ada 4 tempat untuk rujukan pengobatan bagi pasien penderita HIV di Pamekasan yakni,
- Puskesmas Kowel
- Puskesmas Larangan
- RSUD Smart dan
- RSU M. Noer
“Mereka yang terkena HIV/AIDS seperti masyarakat biasa yang artinya mereka tetap berobat, selain itu juga dibutuhkan kesadarannya untuk sembuh dari penyakit HIV yaitu berobat. Sebab, dengan kesadarannya untuk sembuh mereka harus meminum obat secara teratur,”bebernya.
Maka, untuk menghilangkan stigma dan diskriminasi terhadap odhiv (orang dalam HIV) itu agar mereka tidak takut periksa tetap melanjutkan pengobatannya. Sehingga, dalam penanganan kasus HIV/AIDS ini tidak ada semacam rehab di sendiri kan, karena ini beda dengan penyakit TBC. Kalau penyakit TBC ini penularan nya cepat, sebab dia penularan nya melalui Doplang dan batuk,”ungkapnya.
Sedangkan kalau HIV ini, kata Avira, penularannya secara khusus dan tidak langsung jadi bisa dengan hubungan badan, dengan jarum suntik seperti pemakaian narkoba dan itu yang dapat menularkan penyakit tersebut.
“Penyakit TBC penularan nya secara langsung, untuk penderita HIV penularan nya melalui pemakaian jarum suntik seperti narkoba dan hubungan badan,”tambahnya.
Avira mengungkapkan, dalam Kasus HIV/AIDS penyebarannya di Kabupaten Pamekasan ini paling besar dan paling banyak itu di usia produktif yaitu usia 25 tahun sampai 49 tahun tetapi ada yang di bawah 4 tahun itu di karenakan penularan anak dari ibu yang odhiv.
“Ibunya yang odhiv akan menular ke anaknya disebabkan ibunya tidak melakukan pengobatan secara rutin dan teratur. kalau rutin dan teratur bisa saja anak yang di kandung tidak tertular dan penularan pada sang anak melalui darah si ibu,”urainya.
Avira berpesan, di hari Aids se-dunia, pihaknya menekankan untuk tidak perlu takut terhadap masyarakat yang terkena virus HIV jadi tidak perlu memberikan stigma, diskriminasi, terhadap yang odhiv agar tetap terus melakukan pengobatan secara teratur dan rutin kemudian jaga diri dan pasangannya.
“Kalau merasa pasangannya ada terkena HIV Aids lakukan pengobatan segera,”imbuhnya. (Deb)