BONDOWOSO, IndonesiaPos.co.id
Ketika musim kemarau tahun ini, petani cenderung mengalami kesulitan untuk membudidayakan tanaman padi. Petani lebih cenderung memilih menanam jagung ataupun kedelai dibandingkan dengan padi.
Untuk mengatasi hal tersebut, Dirjen Tanaman Pangan telah menyiasatinya dengan menerapkan tumpangsari. Tumpang sari tersebut adalah bentuk pola tanam yang membudidayakan lebih dari satu jenis tanaman dalam satuan waktu tertentu.
“Tanaman tumpang sari ini merupakan suatu upaya dari program intensifikasi pertanian dengan tujuan untuk memperoleh hasil produksi yang optimal, dan menjaga kesuburan tanah,”kata Perta Bagus Legowo SP. Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL) Desa sempol, dan Mantri Tani wilayah Kecamatan Prajekan.

Saat Sosialisasi Berlangsung Senen pekan kemaren di Desa Walidono, yang dihadiri pihak terkait, dan salah satunya sejumlah anggota TNI. Dalam sosialisasinya ia menekankan pada program Kementan yang menitik beratkan pada tanaman tumpang sari padi jagung, dengan jarak tanam 2 jalur jagung dan 4 jalur padi.
Kita berharap para petani akan optimal meraup keuntungan dari program tersebut, dan pola tanam di lakukan setelah hampir berahir musim kemarau, karena tanaman ini di lokasi hamparan tanah kering yang mengandalkan air tadah hujan,”kata Bagus panggilan akrabnya.
Ketua kelompok tani Sumber Urip 1 Desa Walidono, Sarito, merasa sangat antusias dengan pola tanam yang akan di laksanakan ini, apalagi bibit sudah diterima dan sudah mendapatkan sosialisasi dari mantri tani dan koordinator BP Besuk H Sahroni.
“Kami para petani sudah mendapatkan petunjuk untuk melaksanakan program Kementan, yakni program tanaman tumpang sari padi jagung,”jelasnya.( sus )