SUMATRA — IndonesiaPos
Hingga hari ke-40 pascabanjir yang melanda kawasan Provinsi Aceh, Sumatra Utara, dan Sumatra Barat, kehidupan para korban masih sangat memprihatinkan.
Terutama di kawasan pedalaman Aceh yang sulit dari jangkauan jalur darat serta masih terputusnya hubungan telekomunikasi internet.
Di Kecamatan Pining, Kabupaten Gayo Lues, misalnya hingga Senin (5/1/2026) pasokan arus listrik masih putus. Puluhan tiang listrik dan kabel jaringan arus belum selesai diperbaiki.
Saat malam hari warga terpaksa bertahan di kegelapan sunyi tanpa lampu penerang. Berbagai peralatan elektronik seperti penanak nasi hingga kulkas belum dapat digunakan.
“Tidur malam masih seperti dalam kuburan. Apalagi krisis kelambu sehingga serangan nyamuk pascabanjir sangat luar biasa,” tutur Syukri, warga Kecamatan Pining.
Ironisnya, hal tersebut masih terjadi hingga kegiatan belajar mengajar di semester genap berlangsung mulai hari ini, Senin 5 Januari 2026. Berbagai fasilitas sekolah seperti bel pengatur waktu, komputer, dan lainnya tidak boleh dioperasikan.
Sementara itu, putusnya akses internet dan telepon seluler membuat warga harus bersusah payah keluar rumah ke titik tertentu seperti di atas pohon atau di puncak bukit agar bisa berkomunikasi dengan sanak keluarga. Itupun harus berjalan jauh sampai puluhan kilometer keluar dari perkampungan atau menuju jalur ke arah Kota Blang Kejeren, ibu kota Kabupaten Gayo Lues.
Tokoh masyarakat Kecamatan Pining, Masykur menuturkan, hingga sekarang warga di lokasi banjir pedalaman Aceh itu masih mengalami kelangkaan gas elpiji. Pasalnya jalur darat ke kawasan itu belum pulih.
“Hanya mobil double cabin bertenaga 4×4 yang bisa menembus ke Pining. Itupun harus menembus jalur ekstrem. Bahkan kadang sering terjadi longsor susulan sehingga mobil gagal menembus,” tutur Masykur. kepada Media , Senin (5/1/2026),
Dikatakannya, untuk menghidupkan dapur keluarga, sudah sebulan lebih ia bertahan menggunakan kayu bakar. Karena itu mereka harus membuat dapur kayu di luar rumah.
“Ini sangat sulit kala harus berpacu dengan waktu. Misalnya pagi hari, saat menyiapkan sarapan anak-anak yang bergegas hendak pergi sekolah,” tutur seorang perempuan ibu rumah tangga.
Budayawan Aceh dari Universitas Syiah Kuala (USK) Banda Aceh, M Adli Abdullah, melalui Media Indonesia mengaku sangat menyayangkan lambannya perbaikan kembali jalur-jalur darat di kawasan pertanian Aceh. Terutama kawasan tengah Aceh yang memiliki kesuburan dan memiliki kekayaan produksi hasil bumi melimpah.
Misalnya adalah, Kabupaten Gayo Lues sebuah wilayah di bagian tengah Provinsi Aceh atau persis di kawasan pengunungan berdarah sekitar 440 km dari Bandar Aceh. Kabupaten penghasil kopi gayo, durian, dan hortikultura lainnya itu berjuluk Negeri Seribu Bukit.
Adapun Kecamatan Pining adalah kawasan pedalaman atau terpencil berjarak sekitar 40 km dari Blang Kejeren, Ibu kota Kabupaten Gayo Lues. Pining dikenal dengan kawasan penghasil durian kampung yang memiliki rasa aroma khas.
Sekarang puluhan ton durian di lokasi itu tidak dapat dipasarkan keluar. Pasalnya musim panen raya durian sedang berlangsung berhadapan dengan bencana banjir dan tanah longsor sehingga jalur menuju atau ke Pining rusak parah.
“Sangat menyedihkan kondisi ekonomi mereka sekarang. Padahal mereka membutuhkan biaya besar. Apalagi banyak anak-anak Gayo itu kuliah di USK, UIN, dan kampus lain di Banda Aceh.
Bahkan tidak jarang mereka kuliah di universitas-universitas ternama di luar daerah, termasuk Pulau Jawa,” tutur M Adli Abdullah yang juga Dosen Senior USK.


