BONDOWOSO — IndonesiaPos
Wakil Ketua DPRD Bondowoso Sinung Sudrajad mengatakan, pengelolaan pariwisata di Bondowoso hingga kini dinilai belum maksimal. Namun, dirinya berharap dapat mensinergikan antara nature dan culture, sehingga mampu meningkatkan nilai ekonomis, dan memberikan dampak kesejahteraan bagi rakyat.
Menurut Ketua DPC PDIP ini, Kabupaten Bondowoso memiliki potensi besar dalam bidang pariwisata, namun sejauh ini belum terkelola dengan maksimal. Untuk itu program Ijen Geopark ini adalah
“upaya untuk mengembangkan pariwisata dan meningkatkan perekonomian Bondowoso yang muaranya adalah untuk kesejahteraan rakyat.
Sementara Geopark sendiri adalah sebuah kawasan situs warisan geologi yang memiliki hubungan dengan keanekaragaman hayati dan budaya yang dilestarikan, dikelola, serta dapat dimanfaatkan untuk pengembangan ekonomi dan social.
“Ijen Geopark adalah aset berharga dari Kabupaten Bondowoso yang di dalamnya memuat new model konsep percepatan pembangunan daerah, melalui Ijen Geopark akan memberi dua manfaat penting bagi Bondowoso,”tegasnya.
Sinung memaparkan, bahwa yang pertama adalah konservasi kawasan, yaitu memanfaatkan sumber daya alam tanpa merusak alam. Dan yang kedua, memunculkan lapangan kerja melalui pemberdayaan terhadap masyarakat dengan konsep geowisata.
“Ada dua hal penting yang bisa dimanfaatkan melalui Ijen Geopark ini, pertama konservasi dan kedua pemberdayaan rakyat,”bebernya.
Sebagai kader Banteng, dia menganggap bahwa program Ijen Geopark ini sesuai dengan konsep Politik Hijau, yang gencar dikampanyekan Ketua Umum PDI Perjuangan Megawati Soekarnoputri.
Dirinya merasa merasa bangga dan siap bertanggung jawab penuh mengawal program Ijen Geopark. Sebab, selain memuat program daerah, Ijen Geopark ini adalah wujud nyata dalam mengimplementasikan cita cita Partai, sehingga mampu memberi dampak kelestarian lingkungan dan kesejahteraan bagi rakyat.
“Sebagai Kader PDI Perjuangan saya rasa program Ijen Geopark ini, adalah bentuk implementasi saya untuk mewujudkan konsep politik hijau dari ibu Megawati, karena visi dan tujuannya sama, melestarikan lingkungan serta memberdayakan rakyat dan memberi kesejahteraan bagi rakyat,”ungkapnya,
Menjelang revalidasi Ijen Geopark sebagai bagian dari Unesco Global Geopark (UGG) pada 2026, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bondowoso dihadapkan pada sejumlah tantangan mendasar yang dinilai belum sepenuhnya ditangani secara serius dan menilai geliat persiapan teknis yang dilakukan Pemerintah kabupaten Bondowsoso belum menyentuh akar persoalan utama, yakni pemberdayaan masyarakat dan pembenahan infrastruktur di kawasan Geopark.
“Semangat Geopark itu bukan sekadar soal batu dan bukit, tapi bagaimana alam bisa menghadirkan manfaat langsung bagi masyarakat. Hari ini, itu masih belum terasa,” ujar Sinung.
Usai rapat kerja bersama Dinas Pariwisata, Budaya, Pemuda, dan Olahraga (Disparbudpora) serta Pengurus Harian Ijen Geopark (PHIG), kemudian keterlibatan masyarakat dalam pengelolaan dan pemanfaatan kawasan Geopark, kata Sinung masih minim.
Menurutnya, program yang menyentuh ekonomi warga belum berjalan optimal, padahal itu menjadi poin penting dalam penilaian UGG. Lebih lanjut, kondisi infrastruktur yang belum memadai turut menjadi sorotan.
Sejumlah akses jalan menuju titik-titik Geopark di wilayah Ijen, Sumber Wringin, Sukosari hingga Tlogosari disebut masih dalam kondisi rusak dan belum mendapat penanganan berarti. Namun, ia mengingatkan bahwa pencapaian administratif tidak boleh menjadi tujuan akhir.
“Kalau memang kita ingin lolos revalidasi, jangan separuh-separuh. Harus ada keberanian mengalokasikan anggaran yang cukup untuk infrastruktur dan penguatan masyarakat,”urainya.
Dan lambannya implementasi kerja sama dengan sektor swasta, kata Sinung, seperti Medco. Meskipun sudah ada nota kesepahaman (MoU), namun belum terlihat realisasi konkret di lapangan. Esensi Geopark adalah keberlanjutan lingkungan dan kesejahteraan masyarakat.
“Itu yang harus dijadikan tolak ukur utama. Dengan waktu penilaian awal yang tinggal enam bulan, mendorong agar revalidasi ini dijadikan momentum refleksi dan pembenahan menyeluruh. Kegagalan mempertahankan status UGG akan menjadi kemunduran besar bagi citra dan masa depan pariwisata Bondowoso,”katanya.
Sementara, Inisiasi Geopark, Konsultasi dan koordinasi Kementerian Pariwisat RI dalam rangka Bondowoso Menuju Kawasan Geopark Nasonal.
Konsultasi bersama Wakil Gubernur Jawa Timur dalam rangka persiapan Revalidasi Unesco Global Geopark 2026
Dalam konteks politik, PDI Perjuangan Bondowoso menegaskan komitmen memperkuat kedaulatan rakyat dan menolak praktik eksploitasi sumber daya alam yang berpotensi merusak lingkungan.
Hal ini sebagai Anggota Fraksi PDI Perjuangan DPRD Kabupaten Bondowoso, mengajak masyarakat, komunitas pelestarian alam, Sarka Space dan berkerja sama Dinas Lingkungan Hidup bersih-bersih sungai Selokambang, Kademangan-Bondowoso dalam rangka World Rivers Day 2025.
“Bersama Dinas Lingkung Hidup, komunitas pelestarian alam, Sarka Space dsb., bersih-bersih sungai Selokambang, Kademangan-Bondowoso dalam rangka World Rivers Day 2025,”uajrnya.
Sinung Sudrajad mengaku, sebagai Anggota Fraksi PDI Perjuangan DPRD Kabupaten Bondowoso, Mendampingi ekskavasi situs Alas Sumur Bondowoso, bersama Andi Said Arkeolog BPCB Trowulan.
“Kita menguatkan bukti bahwasannya Bondowoso adalah bagian sejarah Majapahit dengan ditemukannya struktur batu bata peninggalan Majapahit di Desa Alas Sumur, Kec. Pujer, Kabupaten Bondowoso Jawa Timur, diduga bangunan tersebut berupa Puri dalam area peristirahatan dalam rangkaian perjalanan Prabu Hayam Wuruk dari Lamajang ke Patukangan (Panarukan saat ini).,’ungkapnya,
“Dengan ditemukannya situs ini berarti lengkap sudah perjalanan sejarah Kab. Bondowoso mulai era Megalit sampai dengan Perang Kemerdekan,”imbuhnya.




