JAKARTA — IndonesiaPos
Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) langsung turun tangan mengatasi bencana hidrometeorologi melanda Kudus, Jepara dan Pati.
Sejumlah program diluncurkan untuk merehabilitas dan mengatasi bencana yang melanda sejak Jumat (9/1) lalu akibat cuaca ekstrem.
Diketahui, cuaca ekstrem berlangsung di sejumlah daerah di Pantura Jawa Tengah dan bencana banjir masih merendam di beberapa daerah seperti Pati, Jepara, Kudus, Demak, Semarang, Kendal dan Pekalongan menjadikan perhatian serius pemerintah dengan bergerak cepat melakukan rehabilitasi. Pada Sabtu (17/1/226)
Sebagai upaya mengatasi dan merehabilitasi dampak bencana hidrometeorologi seperti tanah longsor, banjir dan angin puting beliung tersebut, pemerintah daerah, provinsi dan pusat langsung turun tangan, apalagi hingga saat ini masih banyak warga bertahan di pengungsian dan infrastruktur rusak berat.
Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Letjen TNI Suharyanto bersama Anggota Komisi VIII DPR Sri Wulan langsung melakukan peninjauan ke daerah bencana di Pantura Jawa Tengah tersebut dengan mendatangi posko pengungsian dan dapur umum di Desa Sidoharjo, Kecamatan Pati, Kabupaten Pati, Sabtu (17/1).
Kunjungan bertujuan memastikan pelayanan bagi ribuan warga terdampak banjir berjalan optimal.
“Meskipun hujan masih mengguyur, kondisi di pengungsian mulai menunjukkan perubahan positif dan pelayanan masyarakat terdampak di pengungsian ini berjalan dengan baik,” kata Suharyanto.
Suharyanto mengatakan dalam mengatasi cuaca ekstrem dan dampak yang ditimbulkan setidaknya ada tujuh poin penanganan yakni pertama pemenuhan kebutuhan dasar masyarakat, termasuk di pengungsian, kedua langkah darurat yang segera dilakukan adalah Operasi Modifikasi Cuaca dengan mengerahkan tiga pesawat guna mengurangi intensitas hujan.
“Pelaksana modifikasi cuaca ini merupakan kerjasama BNPB menggunakan dua pesawat dengan Pemrov Jawa Tengah satu pesawat,” tambahnya.
Menurut Suharyanto, poin ketiga pemerintah menargetkan dalam dua pekan ke depan tidak ada lagi akses jalan atau jembatan yang terputus melalui pembangunan infrastruktur darurat dan keempat pemerintah pusat juga akan menindaklanjuti pengajuan infrastruktur permanen serta kelima normalisasi Sungai Juwana melalui BBWS.
Poin keenam dikakukan penggantian aset rumah warga yang rusak yakni rumah-rumah warga yang rusak berat, sedang, maupun ringan akan didata dan nantinya dilakukan perbaikan dan penggantian oleh pemerintah pusat.
Sedangkan poin ketujuh tejah disepakati bahwa apa yang diupayakan di tahun 2026 terkait dengan perbaikan-perbaikan infrastruktur merupakan mitigasi untuk proyeksi di tahun 2027 dan 2028, sehingga seandainya masih turun hujan (ekstrem), mungkin terjadi banjir lagi tidak di titik yang sama di tahun 2026.
Sementara itu Anggota Komisi VIII DPR Sri Wulan mengapresiasi semangat gotong-royong masyarakat dalam mengelola dapur umum yang mampu memproduksi ribuan porsi makanan setiap harinya.
“DPR akan terus mengawal program perbaikan dan pemulihan pascabanjir di Pati ini,” imbuhnya.
Bupati Pati Sudewo melaporkan bahwa banjir kali ini berdasarkan data terbaru yang dia peroleh, berdampak pada 136 desa dengan total sekitar 78.000 rumah yang terendam hingga mengakibatkan 6.800 orang yang mengungsi.
Selain itu, lanjut Sudewo, ada lebih dari seribu rumah rusak dan dua orang korban meninggal dunia. “Kami berupaya secara maksimal, bekerja dengan semua elemen masyarakat untuk memenuhi kebutuhan dasar yang terdampak,” ujarnya. (MI)

