BONDOWOSO — IndonesiaPos
Harga kopi di Kabupaten Bondowoso mengalami kenaikan signifikan dalam dua bulan terakhir. Kenaikan tersebut dirasakan baik pada kopi arabika maupun robusta, seiring menipisnya stok kopi di tingkat petani.
Sejumlah pengusaha kopi menyebut, harga kopi arabika green bean kini berada di kisaran Rp165 ribu hingga Rp170 ribu per kilogram. Padahal sebelumnya, harga beli arabika green bean masih berkisar Rp120 ribu per kilogram.
Tak hanya arabika, harga kopi robusta juga ikut merangkak naik. Saat ini, harga robusta berada di kisaran Rp65 ribu hingga Rp80 ribu per kilogram. Kenaikan tersebut terjadi secara bertahap, dari semula Rp40 ribu, naik ke Rp50 ribu, Rp60 ribu, hingga mencapai harga saat ini.
Owner Kopi Arabika Bulan Madu, Muhlis Adi Rangkul, mengatakan kenaikan harga kopi dipicu oleh menipisnya stok kopi di kalangan petani. Bahkan, sebagian petani disebut sudah kehabisan stok karena terserap pasar.
“Karena stoknya kan tipis juga di petani. Ya cuaca juga mempengaruhi, cuma bukan satu-satunya faktor. Tapi karena stoknya tipis memang,” jelas Muhlis saat dikonfirmasi, Jumat (16/1/2026).
Ia menilai, secara mekanisme pasar, kenaikan harga wajar terjadi ketika barang terbatas. Namun, kenaikan kali ini dinilainya tidak normal. Biasanya, kenaikan harga kopi hanya berkisar Rp10 ribuan, tetapi saat ini melonjak hingga sekitar Rp40 ribu per kilogram.
Muhlis mengaku rutin membeli kopi dari petani di Kecamatan Ijen sekitar 1 hingga 2 kuintal per minggu melalui toko penampung kopi petani.
Sementara itu, gudang-gudang besar kini lebih banyak melayani pembelian dalam partai kecil dengan batas minimal pembelian satu kuintal.
“Minimal 1 kuintal. Jadi gudang dulu yang beli dengan harga murah. Sekarang dikeluarkan dengan harga mahal. Karena harga kopi dunia memang,” ujarnya.
Meski harga bahan baku naik, Muhlis mengaku tidak menaikkan harga jual produk kopi bubuknya. Ia tetap menjual kopi arabika bubuk dengan harga Rp240 ribu per kilogram karena khawatir kenaikan harga akan memengaruhi daya beli konsumen.
Hal senada disampaikan Bu Saleh, pemilik Kopi Raisa. Ia mengaku tetap bertahan dengan harga jual normal, yakni Rp40 ribu hingga Rp60 ribu per kemasan kopi arabika bubuk, meski margin keuntungan menurun.
“Tidak, kalau saya tidak dinaikkan. Kasian konsumen,” pungkasnya.
Menurutnya, kenaikan harga kopi memang kerap terjadi menjelang akhir masa panen, khususnya pada November hingga Desember. Meski demikian, ia bersyukur konsumen tetap setia, bahkan berasal dari berbagai daerah seperti Jakarta dan Bandung.
Mentan Syahrul Bangga, Kopi Blawan Bondowoso Dihargai Mahal di Jerman
