<

Pertalite Langka,  Antrean Panjang Padati SPBU Nyalabu Hingga Larut Malam

PAMEKASAN — IndonesiaPos

Malam di Pamekasan mendadak “panas”. Bukan karena cuaca, tapi karena ratusan pengendara tumpah ruah di SPBU Jalan Raya Nyalabu. Penyebabnya satu: kelangkaan BBM.

 Krisis BBM di Madura makin menjadi-jadi. Di tengah harga Pertamax yang naik ke Rp16.250 per liter dan eceran tembus Rp18.000, antrean panjang tak bisa dihindari.

Titik paling parah terjadi di SPBU Jalan Raya Nyalabu, Pamekasan. Sejak sore hingga tengah malam, Selasa (30/6/2026), ratusan sepeda motor mengular di halaman SPBU. Semuanya berebut BBM yang tersisa.

“Ini sudah keterlaluan. Yang subsidi susah, yang nonsubsidi mahal. Mau lari kemana warga kecil?” ujar seorang pengendara dengan nada putus asa.

Tampak terpantau di lokasi, area SPBU Nyalabu tidak muat lagi menampung kendaraan. Antrean motor memadati seluruh halaman SPBU hingga keluar ke area parkir luar.

Petugas SPBU tampak kewalahan melayani barisan yang tak kunjung surut. Suasana riuh oleh suara mesin motor dan gerutu pengendara yang sudah berjam-jam menunggu.


Mayoritas warga mengincar Pertalite Rp10.000. Namun barang subsidi itu selalu cepat habis. Saat kosong, warga dipaksa beralih ke Pertamax Rp16.250.

Kenaikan harga membuat daya beli warga anjlok. Opsi Pertamax jadi pilihan pahit yang harus ditelan.

“Kalau kepepet ya terpaksa isi Pertamax. Uang Rp20 ribu cuma dapat 1 liter lebih sedikit. Sangat memberatkan,” keluh seorang pengendara yang sudah dua jam mengantre.

Kondisi makin mencekik di pengecer. Karena SPBU kosong, harga eceran Pertamax melambung jadi Rp18.000 per liter. Selisih Rp1.750 dari harga resmi langsung membebani kantong masyarakat.

Tekanan BBM langsung merembet ke semua lini. Ojek pangkalan menaikkan tarif. Pedagang sayur menaikkan ongkos kirim. Semua beralasan BBM mahal.

Ujungnya, beban paling berat tetap jatuh ke masyarakat bawah. Waktu, tenaga, dan uang habis hanya untuk antrean.

“Subsidi susah didapat, nonsubsidi bikin dompet jebol. Kami benar-benar terjepit dari dua arah,” kata seorang warga.

Dengan kondisi Pertamax Rp16.250 dan eceran Rp18.000, warga Madura menuntut kehadiran negara.

“Kami minta Pemerintah Kabupaten Pamekasan dan pihak terkait jangan tutup mata. Awasi harga eceran dan pastikan BBM subsidi bisa kami rasakan. Jangan biarkan kami dicekik dua kali,” tegas warga.

Hingga berita ini diturunkan, SPBU Jalan Raya Nyalabu masih dipenuhi antrean panjang. Jika tidak ada solusi cepat, jeritan SPBU dan tangis warga dipastikan akan terus berlanjut.

Pertamina Naikkan Harga BBM Nonsubsidi Solar Dan Pertamax Turbo Hari Ini

BERITA TERKINI

IndonesiaPos