Barang Bukti
JAKARTA — IndonesiaPos
Direktorat Reserse Kriminal Umum (Ditreskrimum) Polda Metro Jaya menegaskan komitmennya untuk mengusut tuntas aliran dana dalam kasus dugaan penipuan investasi dan perjalanan umrah yang melibatkan PT Hasanah Tamma Internasional atau Hanania Group. Polisi kini tengah membidik sejumlah pihak yang diduga menerima aliran dana dari hasil penipuan tersebut.
Dirreskrimum Polda Metro Jaya Kombes Pol Iman Imanuddin mengungkapkan bahwa proses pelacakan aset (asset tracing) sedang dilakukan untuk memulihkan kerugian para korban. Berdasarkan penyidikan awal, dana milik jamaah diduga tidak hanya digunakan untuk keperluan operasional travel, tetapi juga mengalir ke pihak ketiga untuk kepentingan pemasaran.
“Uang yang digunakan, sebagian digunakan untuk kepentingan di luar dari perjalanan umrah para jamaah, sebagian juga digunakan untuk membayar influencer (pemengaruh) sebagai kepentingan marketing,” ujar Iman di Jakarta, Senin (1/6/2026).
Pihak kepolisian berencana memanggil sejumlah selebgram dan influencer yang pernah mempromosikan paket umrah Hanania Group. Langkah ini diambil untuk mendalami sejauh mana keterlibatan mereka dalam menarik minat masyarakat melalui konten promosi di media sosial.
“Tentunya, kami juga akan mengambil keterangan terhadap para selebgram yang ikut serta memberikan atau menjadi marketing dalam hal penawaran beberapa paket umrah yang ditawarkan oleh PT Hasanah Tama Internasional tersebut,” tegas Iman.
Hingga saat ini, penyidik baru menetapkan direktur utama agen travel tersebut sebagai tersangka tunggal. Namun, Iman menyatakan bahwa peluang adanya tersangka baru masih sangat terbuka lebar, termasuk mendalami peran istri tersangka yang diduga ikut mengelola perusahaan.
“Sesuai dengan fakta hukum yang diperoleh pada proses penyidikan, tidak menutup kemungkinan apabila ada fakta hukum lain yang mengarah pada tersangka yang lain,” tuturnya.
Menanggapi maraknya kasus serupa, Polda Metro Jaya mengimbau masyarakat agar lebih rasional dan tidak mudah tergiur oleh tawaran paket umrah dengan harga yang tidak masuk akal.
Iman mengingatkan bahwa skema penipuan sering kali menggunakan figur publik untuk membangun kepercayaan semu.
“Jangan tertarik karena berbagai fasilitas yang ditawarkan begitu mudah dan banyak, sementara harga yang ditawarkan tidak sesuai atau jauh lebih murah. Biasanya diiming-imingi berangkat bersama tokoh atau public figure tertentu. Nah, ini perlu kehati-hatian,” pungkasnya.
Kasus Hanania Group ini mencuat setelah puluhan mitra dan calon jamaah melaporkan kerugian yang ditaksir mencapai Rp20 miliar akibat gagal berangkat ke Tanah Suci meskipun telah melunasi pembayaran.