<

Dipicu Konflik 280 Ribu Orang Warga Sudan Selatan Mengungsi

JAKARTA — IndonesiaPos

Pertempuran yang kembali berkobar di negara bagian Jonglei, Sudan Selatan, menyebabkan ratusan ribu warga sipil mengungsi dalam beberapa pekan terakhir. Pertempuran turut merusak fasilitas kesehatan, memicu penyebaran kolera.

Koordinator Bantuan Darurat Tom Fletcher tiba di negara itu untuk misi lima hari. Guna menarik perhatian internasional terhadap apa yang ia gambarkan sebagai krisis yang memburuk dan kurang dilaporkan. Jumat lalu,

“Jadi di Sudan Selatan ini, Anda memiliki badai sempurna dari perubahan iklim, konflik, ketidaksetaraan, dan kemiskinan. Saat ini, orang-orang di Sudan Selatan merasa bahwa tidak ada yang mendengarkan,” ujar Fletcher dilansir UN News.

Bentrokan antara Pasukan Pertahanan Rakyat Sudan Selatan, tentara nasional dan elemen-elemen dari Tentara Pembebasan Rakyat Sudan dalam Oposisi (SPLA-iO). Mereka menjadi saingannya, yang kembali terjadi pada akhir Desember, telah memicu pengungsian besar-besaran di seluruh wilayah tengah dan utara Jonglei.

Menurut otoritas Sudan Selatan, hampir 280.000 orang telah meninggalkan rumah mereka di delapan wilayah, dengan banyak yang pindah ke negara bagian Nil Hulu dan Danau. Keluarga-keluarga berlindung di tempat terbuka atau di bangunan darurat, dengan kebutuhan mendesak akan makanan, perawatan kesehatan, dan kebutuhan pokok.

Pasar dan kegiatan pertanian terganggu, menyebabkan beberapa komunitas memiliki sedikit atau tidak ada akses terhadap makanan. Di Akobo, bagian selatan negara bagian Jonglei, Fletcher mengunjungi sebuah rumah sakit setempat, tempat setidaknya 93 pasien dengan luka tembak telah dirawat hingga tanggal 18 Februari.

Program Pangan Dunia PBB (WFP) telah meningkatkan bantuan pangan, tetapi pertempuran dan ketidakamanan. Termasuk penjarahan konvoi bantuan guna menghambat respons tersebut.

Ke-13 fasilitas kesehatan dilaporkan rusak atau dijarah, mengakibatkan tiga kematian dan satu cedera di antara petugas kesehatan. Di beberapa kabupaten, sebagian besar fasilitas telah hancur atau menghentikan operasinya.

Sementara itu, kolera terus menyebar antara tanggal 11 dan 17 Februari, 106 kasus baru dan tiga kematian dilaporkan di lima kabupaten. Sejak wabah dimulai pada September 2024, lebih dari 98.000 kasus dan 1.624 kematian telah tercatat di seluruh negeri.

Eskalasi ini terjadi di tengah meningkatnya risiko perlindungan bagi warga sipil dan pekerja bantuan. Dengan tiga personel kemanusiaan tewas antara 7 dan 16 Februari di negara bagian Jonglei dan Nil Hulu, menurut kantor koordinasi bantuan PBB,

 

BERITA TERKINI

IndonesiaPos