IRAN — IndonesiaPos
Iran disebut tengah memperketat akses pelayaran di Selat Hormuz dengan membatasi jumlah kapal yang bisa melintas hanya sekitar 12 unit per hari.
Kebijakan itu berpotensi membebani kapal tanker raksasa dengan biaya hingga US$2 juta (atau sekitar Rp68,4 miliar) per lintasan.
Laporan The Wall Street Journal menyebut, para pemilik kapal dari berbagai negara kini bernegosiasi dengan Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) agar mendapat izin melintasi jalur strategis tersebut.
Tak hanya dibatasi dari sisi jumlah, kapal yang lolos juga disebut wajib mengikuti rute khusus yang telah ditentukan serta mengantongi izin resmi sebelum melintas.
Skema ini menandai kontrol yang jauh lebih ketat di salah satu chokepoint energi paling vital di dunia.
Perkembangan itu muncul setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump, pada Rabu (8/4) malam, mengumumkan adanya kesepakatan dengan Iran mengenai gencatan senjata selama dua pekan.
Setelah itu, Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi menyatakan Selat Hormuz kembali dibuka. Jalur ini memegang peran krusial karena dilalui sekitar 20% pasokan minyak, produk petroleum, dan gas alam cair (LNG) dunia.
Meski demikian, laporan terbaru menunjukkan pembukaan itu tidak serta-merta berarti pelayaran kembali normal. Dengan pembatasan kuota kapal dan biaya yang sangat tinggi, Selat Hormuz tetap menjadi titik tekan baru bagi rantai pasok energi global. (MI)
Tiga ABK Kapal Tunda UEA WNI Hilang Akibat Tenggelam di Selat Hormuz