<

Gugatan Nurul Ghufron Dinilai Karena Frustasi

JAKARTA – IndonesiaPos

Indonesia Corruption Watch (ICW) menilai semua gugatan Wakil Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Nurul Ghufron sebagai bentuk frustasi.

Ghufron dinilai tidak bisa menepis tuduhan penyalahgunaan kewenangan dalam mutasi jabatan di Kementan dari Dewan Pengawas (Dewas) Lembaga Antirasuah.

“Tindakan Ghufron mulai dari menggugat TUN, judicial review Perdewas sampai melaporkan Dewas ke Bareskrim justru menimbulkan kegaduhan dan menciptakan insinuasi negatif di tengah masyarakat bahwa Ghufron tengah frustasi dan tidak mampu membuktikan bahwa dirinya tidak bersalah dalam pelanggaran etik yang disangkakan kepadanya,”kata Peneliti dari ICW Diky Anindya, Senin (27/5/2024).

Ghufron, kata Diky, punya hak untuk mengambil semua langkah hukum dalam gugatannya. Tapi, kata dia, hasil akhir salah atau tidaknya pelanggaran etik ditentukan vonis Dewas KPK.

Ghufron cuma butuh mendengarkan vonis jika merasa tidak bersalah. Kalau diputus tidak melanggar, nama dia pun akan dibersihkan oleh para majelis etik.

“Semestinya dia bisa memahami posisinya dan dengan berani melakukan perlawanan dengan membuktikan bahwa dirinya tidak bersalah di forum pemeriksaan dan sidang etik,” ujar Diky.

Sebelumnya, Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) mengamini adanya imbas atas polemik pimpinannya, Nurul Ghufron dengan Dewan Pengawas (Dewas) Lembaga Antirasuah. Reputasi instansi diyakini telah tergerus.

“Secara kelembagaan ya ini jelas menggerus reputasi KPK di sisi lain begitu ya,”kata juru bicara bidang penindakan KPK Ali Fikri  kepada wartawan di Jakarta, dikutip Minggu (26/5/2024).

Kepala Bagian Pemberitaan KPK itu menjelaskan polemik Ghufron dengan Dewas Lembaga Antirasuah itu merupakan urusan pribadi. Permasalahan itu dipastikan tidak membuat hubungan dua gedung terpecah.

BACA JUGA :

“Bahkan kemudian kalau ada korwas (koordinasi pengawasan) misalnya antara pimpinan dan Dewas berjalan seperti biasa. Berjalan seperti biasa,”ucap Ali.

Ali meminta masyarakat tidak melihat polemik Ghufron dengan Dewas KPK sebagai peperangan dua kantor.

Menurutnya, Lembaga Antirasuah tidak terlibat dalam kelembagaan dalam semua gugatan komisionernya itu, maupun aduan di Bareskrim Polri.

“Beda dengan keputusan lembaga KPK, Kalau memang ini keputusan KPK sudah sangat berbeda tentu dan pasti kami tidak akan lakukan yang seperti itu kan,” ujar Ali.

Diketahui, laporan Nurul Ghufron ke Bareskrim Polri membuat masalah di Lembaga Antirasuah bertambah.

Setidaknya, perbincangan hangat lainnya soal eks akademisi itu berupa sidang etik, gugatan di PTUN Jakarta, dan Mahkamah Agung (MA).

Menanggapi itu, Ghufron menolak dicap sebagai pimpinan paling problematik di KPK. Karena, sikapnya masih legal dilakukan di Indonesia.

“Memanfaatkan, menggunakan, dan kemudian juga ya, melakukan advokasi, atau upaya hukum atas masalah-masalah saya itu adalah hal yang legal dalam negara hukum,” tegas Ghufron di Gedung Merah Putih KPK, Jakarta Selatan, Senin (20/5/2024).

Ghufron mengklaim sikapnya merupakan pembelajaran bagi masyarakat. Sebab, lanjutnya, Dewas KPK memaksanya menjalankan sidang etik saat laporan sudah kedaluwarsa.

“Materi peristiwa yang diduga melanggar etik kepada saya, itu peristiwa tanggal 15 Maret (2022), terbukti di saksi-saksi saat ini, 15 Maret 2022. Pasal 23 (Perdewas KPK) menyatakan bahwa kedaluwarsanya satu tahun, tapi masih diproses ini,”tegas Ghufron.

 

BERITA TERKINI

IndonesiaPos