Foto : Dedy Misnoto
BONDOWOSO — IndonesiaPos
Seorang pejuang pendidikan bernama Dedy Misnoto bersama sejumlah Perkumpulan Guru Madrasah Mandiri (PGMM) Bondowoso menunjukkan semangat dan konsisten memperjuangan sesama guru di Jakarta beberbapa waktu lalu.
Perjuangan yang luar biasa dan sangat menyentuh hati ini adalah bukti nyata bahwa kesejahteraan guru madrasah swasta memang harus diperjuangkan habis-habisan.
“Kami berada di garda terdepan dari Bondowoso hingga ke Jakarta (dari Patung Kuda sampai gerbang DPR RI) demi menyuarakan hak para pahlawan tanpa tanda jasa adalah langkah yang sangat mulia,”kata Dedy Misnoto, M.Pd.I (PGMM Pimda Bondowoso) ini.
Sementara itu, Dedy juga menggaungkan naskah orasi/pernyataan sikap yang dirancang khusus untuk membakar semangat perjuangan, menegaskan tuntutan afirmasi ASN PPPK 2026, dan menolak segala bentuk diskriminasi.
“Kami tidak akan bisa tidur nyenyak, sebelum guru madrasah swasta terangkat dalam afirmasi ASN PPPK!,”Dedy Misnoto, M.Pd.I (PGMM Pimda Bondowoso)
Sedangjkan Poin-Poin Tuntutan Utama Perjuangan diantaranya;
- Segera Angkat Inpassing Guru Sertifikasi: Mendesak pemerintah untuk segera menuntaskan proses pengangkatan inpassing (kesetaraan jabatan dan pangkat) bagi guru madrasah swasta yang telah bersertifikasi.
- Afirmasi Khusus ASN PPPK 2026: Menuntut kuota dan jalur afirmasi khusus yang berpihak pada guru madrasah swasta pada pengangkatan ASN PPPK tahun 2026.
- Hapus Dikotomi dan Diskriminasi: Menolak keras segala bentuk pembedaan perlakuan antara sekolah negeri dan swasta, serta antara madrasah negeri dan madrasah swasta. Semua guru mencerdaskan anak bangsa yang sama!
- Kawal Janji Baleg DPR RI: Mengawal penuh optimisme dan komitmen Badan Legislasi (Baleg) DPR RI yang menjamin lahirnya regulasi/perundang-undangan baru di tahun 2026 demi mengakomodir nasib guru madrasah swasta.
“Hari ini, dari Bumi Bondowoso hingga ke jantung Ibu Kota Jakarta, di bawah terik matahari Gelora Bung Karno dan di depan gerbang DPR RI, kita berkumpul bukan untuk meminta belas kasihan.”ujarnya lantang.
“Kita hadir di sini untuk menuntut hak dan keadilan, sebab, Undang-Undang Dasar 1945 telah mengamanatkan secara tegas: aman, nyaman, dan sejahtera adalah hak seluruh rakyat Indonesia. Lalu mengapa hari ini, guru madrasah swasta masih harus menjerit demi sebuah pengakuan,”kata Dedy menambahkan.
Dedy menambahkan, Perkumpulan Guru Madrasah Mandiri (PGMM) Bondowoso, menyatakan dengan tegas bahwa “Tidak Boleh Ada Dikotomi! Tidak Boleh Ada Diskriminasi!”
“Anak-anak yang kami ajar adalah anak-anak bangsa yang sama. Kurikulum yang kami ajarkan adalah kurikulum yang sama. Pengorbanan yang kami berikan untuk negeri ini tidak berbeda satu senti pun dengan guru-guru di sekolah negeri! Maka sangat tidak adil jika pintu afirmasi ASN PPPK ditutup bagi kami.”bebernya.
Dedy mengutarakan, bahwa aksi Jilid 1 di Patung Kuda dan Aksi Jilid 2 di depan DPR RI adalah saksi bisu bahwa kita tidak akan tinggal diam. Pihaknya tidak akan duduk manis di rumah melihat ketidakadilan ini melenggang bebas.
“Kami pegang janji Baleg DPR RI bahwa tahun 2026 akan ada undang-undang baru yang mengakomodir guru madrasah swasta,”terangn Dedy.
Dedy mengingatkan, bahwa perjuangan ini belum selesai. Karena pihaknya bersama pasukannya tidak akan pernah bisa tidur nyenyak, sebelum SK PPPK dan keadilan bagi guru madrasah swasta jatuh ke tangan dan semua Guru Madrassah.
Dia henya meminta agar Angkat Inpassing! Angkat PPPK Guru Madrasah Swasta di Tahun 2026. Kemudian dia ada Catatan Juang, bahwa konstitusi menjamin hak setiap warga negara untuk bersuara.
“Tetap jaga kerapian barisan, soliditas antar-organisasi profesi (orprof), dan gaungkan terus optimisme ini hingga ketukan palu undang-undang baru di tahun 2026 benar-benar berpihak pada guru madrasah swasta. Salam hormat untuk perjuangan PGMM Bondowoso,”imbuhnya. (*)
PGRI Jatim Akan Kawal Pengangkatan Guru Honorer Jadi ASN PPPK