Presiden Prabowo Subianto
JAKARTA — IndonesiaPos
Presiden Prabowo Subianto menilai Nahdlatul Ulama (NU) memiliki peran penting sebagai penjaga stabilitas bangsa, terutama saat Indonesia menghadapi berbagai tantangan.
Menurutnya, organisasi Islam terbesar di Indonesia itu selama ini selalu hadir menjadi kekuatan yang menenangkan dan menyatukan masyarakat.
“Keluarga besar NU selalu tampil di saat bangsa Indonesia dalam keadaan sulit. Keluarga besar NU adalah faktor stabilisator, faktor yang bisa membuat aman bangsa dan negara,” kata Prabowo saat memberikan pidato pada Penutupan Musyawarah Nasional Alim Ulama dan Konferensi Besar NU 2026 seperti disaksikan dari YouTube Setpres, Selasa (23/6).
Prabowo mengatakan keyakinannya terhadap peran strategis NU tidak muncul tanpa alasan. Ia melihat organisasi yang dipimpin para kiai dan ulama itu memiliki kedekatan yang kuat dengan masyarakat, terutama kalangan akar rumput di pedesaan.
Menurut dia, para kiai dan ulama merupakan tokoh yang memahami langsung kondisi rakyat karena hidup dan berinteraksi dengan mereka sehari-hari.
Kedekatan itu membuat NU mampu menangkap persoalan yang dirasakan masyarakat sekaligus menjadi jembatan antara rakyat dan negara.
“Para kiai dan para ulama paham, mengerti apa yang dirasakan rakyat. Para kiai dan para ulama merasakan apa yang dirasakan rakyat paling bawah,” ujarnya.
Dalam kesempatan tersebut, Prabowo juga mengungkapkan kedekatan personalnya dengan NU yang telah terjalin sejak lama.
Ia mengaku selalu merasa nyaman berada di tengah keluarga besar NU karena memiliki hubungan emosional dengan organisasi tersebut sejak masa kecil.
Menurut Prabowo, keluarganya juga memiliki keterikatan dengan NU. Selain pernah bertetangga dengan keluarga Presiden keempat RI Abdurrahman Wahid atau Gus Dur di Jakarta, ia menyebut neneknya berasal dari lingkungan NU.
“Memang saya merasa selalu nyaman di tengah-tengah keluarga besar Nahdlatul Ulama. Nyaman dan aman, merasa aman,” kata Prabowo.
Lebih jauh, Prabowo menilai salah satu kekuatan utama NU adalah kemampuannya memadukan nilai-nilai keagamaan dengan semangat kebangsaan.
Baginya, NU bukan hanya organisasi keagamaan, tetapi juga organisasi yang sangat nasionalis dan patriotik.
Ia mencontohkan lagu Syubbanul Wathon yang hingga kini terus dinyanyikan dalam berbagai kegiatan NU. Meski diciptakan sebelum Indonesia merdeka, lagu tersebut dinilai sudah mengandung pesan cinta tanah air yang kuat dan terus diwariskan dari generasi ke generasi.
“Bahwa Nahdlatul Ulama adalah memang organisasi keagamaan, tapi sangat nasionalis, sangat patriotik, sangat cinta tanah air. Jadi agamis, tapi nasionalis dan patriotik,” tuturnya.
Prabowo bahkan berseloroh mengenai tradisi menyanyikan Syubbanul Wathon yang diiringi kepalan tangan sebagai bentuk semangat perjuangan.
Menurutnya, simbol tersebut menunjukkan bahwa semangat kebangsaan dan disiplin sudah lama hidup di lingkungan NU, bahkan jauh sebelum Indonesia merdeka.
PBNU Matangkan Strategi Organisasi Pada Muktamar ke-35 Mendatang