<

Bukan Anti Alat Berat, Ini Alasan TMMD ke-130 Pamekasan Pilih Cangkul dan Ember di Desa Jarin

PAMEKASAN — IndonesiaPos

Di tengah maraknya proyek infrastruktur yang mengandalkan excavator dan mesin molen, pemandangan berbeda terlihat di Desa Jarin, Kecamatan Pademawu. Satgas TMMD ke-130 Kodim 0826/Pamekasan justru memilih mengangkut pasir dengan ember dan mengaduk semen dengan cangkul bersama warga.

Langkah itu bukan karena keterbatasan alat, melainkan strategi untuk menghidupkan kembali marwah Kemanunggalan TNI-Rakyat.

Program yang lahir pada 1980 sebagai ABRI Masuk Desa (AMD) ini sejak awal memang digagas Panglima ABRI Jenderal M. Jusuf bukan sebagai proyek kontraktor. AMD adalah media penyatuan TNI dan rakyat, di mana alat sederhana sengaja dipakai agar warga tidak menjadi penonton.

Prinsip 46 tahun lalu itu yang kini dipraktikkan di Dusun Kotalon dan Morsoksok.

Pasiter Kodim 0826/Pamekasan Kapten Chb Aman Karyoko menegaskan, metode manual adalah inti dari TMMD.

“Kalau pakai alat berat, warga hanya jadi penonton. Kalau pakai cangkul, warga bisa kerja bareng setiap hari. Itu inti TMMD,” ujar Kapt. Chb Aman Karyoko di Balai Desa Jarin, Jumat (30/10/2026).

Di lapangan, TNI dan warga benar-benar melebur. Tokoh masyarakat Dusun Kotalon Samsul Ma’arif setiap pagi terlihat tanpa sekat mengangkut batu bersama prajurit. Di parit drainase, Babinsa Desa Jarin Serda Syarif yang tinggal di rumah warga, bukan di tenda, bahu-membahu mengecor bersama mereka.

Ada tiga dampak dari metode gotong royong ini:

  1. Rasa Memiliki. Warga yang ikut merasakan sakit pinggang saat menggali drainase akan menjaga hasilnya.
  2. Transfer Keterampilan. Warga belajar teknik pengecoran, pemasangan batu, dan pembuatan adukan yang benar langsung dari prajurit Zeni.
  3. Ketahanan Sosial. Kebersamaan yang dibangun di lokasi kerja berlanjut hingga ke musholla saat sholat berjamaah dan makan bersama.

TMMD bukan anti-teknologi. Untuk pekerjaan yang membutuhkan pemadatan maksimal seperti pengaspalan di tiga dusun yakni Dusun Morsoksok, Dusun Barat, dan Dusun Kotalon, Satgas tetap menggunakan baby roller dan truk aspal. Namun proses finishing tetap dikerjakan manual bersama warga.

Kepala Desa Jarin Mohammad Zuhri menilai metode ini membuat pembangunan lebih bermakna.

“Kalau proyek dari atas, kami terima jadi. Kalau TMMD, kami ikut sakit pinggangnya, jadi kami sayang hasilnya. Drainase itu anak saya ikut gali,” pungkas Zuhri. (Roy)

 

Proyek Pembangunan Jalan Multi Years M.Yamin Diprediksi Tak Bertahan Lama

 

BERITA TERKINI

IndonesiaPos