<

Keterasingan Jiwa

Ditulis Oleh : Dedi Misnoto

 

Editorial  — IndonesiaPos

Ini adalah sebuah puisi Arab yang sangat indah dan sarat akan makna mendalam tentang kesepian, keteguhan hati, dan hakikat kehidupan. Judul utamanya adalah “غُرْبَةُ الرُّوح” (Ghurbatul Ruuh), yang berarti “Keterasingan Jiwa”.

Berikut adalah transkripsi teks Arab beserta terjemahan sastranya ke dalam bahasa Indonesia agar keindahan maknanya tetap terjaga:

غُرْبَةُ الرُّوح (Keterasingan Jiwa)

كلمات راغب عبد الحميد عقاد (Karya: Ragheb Abdel Hamid Aqad)

  1. مَالِي أَرَانِي وَحِيداً فِي عَنَاوِينِي   (Mengapa kulihat diriku begitu sepi di balik nama dan keberadaanku?)
  2. وَمَا لِقَلْبِي شَرِيداً بَاتَ يُبْكِينِي  (Dan mengapa hatiku terlantar, hingga membuatku terus menangis dalam gulita?)
  3. قُمْ وَاكْسِرِ الصَّمْتَ لَا عَيْشٌ بِلَا كَدَرٍ  (Bangkitlah, dan pecahkan keheningan! Sebab tak ada kehidupan yang luput dari keruh (ujian).
  4. عَارِكْ هُمُومَكَ بَيْنَ الحِينِ وَالحِينِ (Gempurlah kegundahanmu dari waktu ke waktu.)
  5. لَا تَرْكَنَنَّ لِصَوْتِ النَّاسِ فِي مَلَلٍ (Jangan pernah kau bersandar pada suara manusia yang penuh rasa bosan.)
  6. كُلُّ البَرِيَّةِ مِنْ مَاءٍ وَمِنْ طِينِ  (Karena sejatinya, seluruh makhluk hanyalah diciptakan dari air dan tanah.)
  7. لَا تَجْعَلِ الخَوْفَ رُبَّاناً يَقُودُكَ فِي  (Jangan biarkan rasa takut menjadi nakhoda yang mengemudikanmu,)
  8. بَحْرِ الحَيَاةِ وَلَا تَرْكَنَّ إِلَى اللَّينِ  (Di tengah samudra kehidupan, dan jangan pula kau condong pada kelemahan.)
  9. قَدْ كَرَّمَ اللهُ كُلَّ النَّاسِ قَاطِبَةً  (Sungguh, Allah telah memuliakan seluruh umat manusia tanpa terkecuali,)
  10. وَأَقْسَمَ اللهُ بِالزَّيْتُونِ وَالتِّينِ  (Dan Allah pun telah bersumpah demi buah zaitun dan buah tin.)
  11. أَرِحْ فُؤَادَكَ مِنْ هَمٍّ وَمِنْ حَزَنٍ  (Maka istirahatkanlah hatimu dari rasa cemas dan duka lara,)
  12. وَانْفِ عَنِ الضَّيْمِ وَالإِذْلَالِ وَالهُونِ  (Dan hempaskanlah segala bentuk kezaliman, penghinaan, serta kerendahan martabat.)

ntisari dan Pesan Puisi:

Puisi ini diawali dengan keluhan emosional tentang rasa asing dan kesepian yang mendalam (keterasingan jiwa). Namun, bait-bait berikutnya langsung berubah menjadi untaian motivasi dan nasihat bijak.

Penyair mengingatkan kita bahwa hidup ini memang tempatnya ujian (“tidak ada kehidupan tanpa keruh”).editorial Kita diajak untuk tidak bergantung pada penilaian manusia karena manusia sama-sama rapuh (terbuat dari tanah), melarang kita dikuasai oleh rasa takut, serta mengingatkan kembali akan martabat tinggi yang telah diberikan Tuhan kepada manusia agar kita hidup dengan penuh harga diri dan optimisme. 

Tembok Tebal Itu Bernama Komisi Pemberantasan Korupsi

 

 

BERITA TERKINI

IndonesiaPos