JEMBER – IndonesiaPos
Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Jember melaporkan kondisi banjir akibat cuaca ekstrem di wilayahnya, kini telah surut dan aman terkendali.
Hingga Rabu (17/12/2025) sore, sebagian besar wilayah terdampak telah kembali normal. Selain itu, warga juga mulai beraktivitas dan melakukan pembersihan rumah.
Kepala BPBD Jember, Indra Tri Purnomo, mengatakan banjir dipicu hujan lebat serta angin kencang pada Senin (15/12/2025). Itu menyebabkan luapan sejumlah sungai, terutama di DAS Bedadung.
“Luapan sungai terjadi di beberapa titik, seperti Sungai Bedadung, Mayang, Kalijompo, Rembangan, Gila, hingga Dinoyo. Air sempat masuk ke permukiman warga, ketinggian 40-150 sentimeter,” ujarnya.
Berdasarkan data Pusdalops BPBD Jember, bencana banjir tercatat memengaruhi 11 kecamatan dan 22 desa/kelurahan.
Total warga terdampak mencapai 1.428 kepala keluarga, termasuk kelompok rentan seperti 94 lansia, 42 balita, tiga ibu hamil, serta 30 santri.
BPBD juga mencatat satu orang meninggal dunia akibat terseret arus banjir di Kecamatan Kalisat.
Selain korban jiwa, banjir menyebabkan kerusakan material berupa dua rumah rusak berat, satu rumah rusak sedang, sembilan rumah rusak ringan, dua fasilitas umum terdampak.
Kemudian satu musala rusak sedang, serta lima jembatan mengalami kerusakan, dengan empat di antaranya rusak berat.
Kerusakan juga terjadi pada sarana perahu nelayan, yakni empat scocen dan tujuh perahu cepat yang hancur terbawa arus.
Indra menjelaskan, wilayah dengan dampak banjir cukup luas meliputi Kecamatan Patrang, Kaliwates, Sumbersari, Pakusari, Kalisat, Rambipuji, Wuluhan, Puger, Jelbuk, Ajung, hingga Sukorambi.
Selain banjir, hujan lebat juga memicu tanah longsor dan pohon tumbang di lima kecamatan, termasuk Ledokombo, Arjasa, Jelbuk, Patrang, dan Rambipuji.
“Untuk kondisi terkini, hampir seluruh lokasi banjir sudah surut. Saat ini fokus kami adalah distribusi logistik, penyediaan air bersih, kerja bakti pembersihan lumpur, serta penanganan kerusakan infrastruktur, khususnya jembatan,” katanya.
BPBD bersama organisasi perangkat daerah (OPD) terkait juga telah mendirikan dapur mandiri, menyalurkan bantuan logistik, matras, selimut, paket lansia dan bayi, serta mendistribusikan air bersih ke wilayah yang masih membutuhkan.
Indra mengimbau masyarakat untuk tetap waspada terhadap potensi cuaca ekstrem, mengingat peringatan dini BMKG masih berlaku hingga 20 Desember 2025.
Ia juga menegaskan perlunya evaluasi bangunan yang berdiri di bantaran sungai dan saluran irigasi.
“Ke depan, kami akan menurunkan tim Jitupasna untuk meninjau kembali bangunan yang berada di atas alur sungai atau saluran air, sebagai langkah pencegahan agar kejadian serupa tidak terus berulang,” kata dia.