<

Dies Natalis ke-48 Unira, Gelar Festival Rujak Corek Jadi Panggung UMKM Madura

PAMEKASAN — IndonesiaPos

Universitas Madura (Unira) memperingati Dies Natalis ke-48 dengan menggelar Festival Rujak Corek dan Jajanan Pasar di halaman kampus, Minggu (17 Mei 2026).

Perayaan tahun ini dikemas berbeda, dengan mengangkat kearifan lokal sebagai bentuk nyata komitmen kampus terhadap budaya dan ekonomi masyarakat.

Sejak pagi, puluhan stand UMKM memadati area festival. Aroma rujak corek khas Madura, jajanan pasar tradisional, dan camilan kekinian berpadu menciptakan suasana meriah.

Tidak hanya mahasiswa, masyarakat umum juga memadati lokasi untuk mencicipi kuliner sekaligus menyaksikan rangkaian lomba.

Puncak acara berlangsung khidmat saat panitia mengumumkan pemenang lomba rujak corek, di mana gelar juara 1 berhasil diraih Ibu Ninis, warga Kelurahan Barurambat Kota, Jalan Stadion Gang 5 No. 18, Pamekasan.

Perempuan 47 tahun itu tampak terkejut dan tidak bisa menyembunyikan rasa harunya saat namanya disebut.

“Saya benar-benar kaget sampai gemetaran. Saya bukan penjual rujak, hanya memang suka makan rujak. Tidak menyangka bisa menang,” tuturnya dengan mata berkaca-kaca.

Momen tersebut menjadi salah satu yang paling berkesan karena menunjukkan bahwa festival ini benar-benar terbuka untuk masyarakat luas, bukan hanya pelaku usaha kuliner.

Rektor Unira, Dr. Drs. Ec. H. Gazali, M.M., menjelaskan bahwa festival ini merupakan langkah awal kampus untuk mengenalkan kembali kekayaan kuliner tradisional yang mulai jarang dikenal generasi muda.

“Karena ini masih awal, mungkin masyarakat belum banyak yang tahu. Sebenarnya kami ingin kegiatan ini diikuti sebanyak-banyaknya dan memang dilombakan agar ada semangat kompetisi yang sehat. Tujuannya bukan hanya meramaikan, tapi juga melestarikan,” ujar Dr. Gazali.

Menurutnya, pemilihan rujak corek dan jajanan pasar bukan tanpa alasan. Kedua kuliner tersebut melekat kuat dengan identitas Pamekasan dan Bangkalan, serta menjadi bagian dari ekonomi informal yang menopang masyarakat.

“Harapan kami, melalui festival ini kita bisa terus memicu dan membantu mengembangkan ekonomi masyarakat lokal di tengah krisis global. Sektor UMKM terbukti paling tangguh dan mampu bertahan. Kita bantu kuliner tradisional seperti rujak corek dan jajanan pasar ini agar terus tumbuh dan berkembang,” tegasnya.

Festival ini juga menjadi implementasi tema besar Dies Natalis ke-48 Unira, yaitu memantapkan posisi Unira sebagai “Kampus Teduh”. TEDUH merupakan akronim dari Teladan, Elaboratif, Dedikatif, Unggul, dan Humanis.

Kegiatan ini sekaligus bagian dari Pokok Dasar Ilmiah Unira dalam pengembangan sumber daya manusia dan ekonomi lokal melalui ilmu pengetahuan, teknologi, dan seni berbasis kearifan lokal.

“Kuliner lokal kita sebenarnya banyak yang populer, seperti sate, kaldu, dan lainnya. Kali ini kami memulai dulu dengan rujak corek dan jajanan pasar sebagai pemicu. Ke depan, kami ingin memperluas ke kuliner lain yang punya potensi besar,” tambah Gazali.

Panitia menargetkan festival ini tidak berhenti di tahun ini. Unira berharap acara serupa dapat digelar dengan skala lebih besar, melibatkan peserta dari berbagai daerah, sekaligus menjadi wadah riset mahasiswa untuk memetakan potensi ekonomi daerah.

“Dies Natalis bukan hanya seremoni. Kami ingin setiap kegiatan punya dampak langsung, baik untuk mahasiswa maupun masyarakat. Inilah makna Kampus Teduh yang kami jalankan,” tutup Rektor.( Zt/AD)

 

 

Dies Natalis ke-35 Jadi Ajang Kenalkan Potensi SMPN 1 Tlogosari Bondowoso

 

 

 

 

BERITA TERKINI

IndonesiaPos